Jakarta | Sketsa Online – Ketua Umum Sekretariat Bersama Wartawan Indonesia (SWI), H. Iskandar, S.Sos., resmi melantik jajaran Dewan Pimpinan Pusat (DPP) SWI masa bakti 2026–2031 di Grand Ballroom United Tractors, Cakung, Jakarta Timur, Minggu (19/7/2026).
Mengusung tema “Menguatkan Solidaritas Wartawan, Membangun Organisasi yang Profesional, Berintegritas, dan Berdaya Saing”, pelantikan ini menjadi momentum konsolidasi organisasi sekaligus penegasan komitmen SWI dalam memperkuat profesionalisme wartawan di tengah dinamika era digital.
Dalam sambutannya, Iskandar menegaskan bahwa jabatan pengurus merupakan amanah yang harus dijalankan dengan integritas, loyalitas, dan tanggung jawab demi menjaga marwah organisasi.
“Kita harus menjaga marwah SWI. Apa yang tadi sudah diucapkan dalam sumpah dan janji harus benar-benar kita jalankan. Itu harapan saya,” tegas Iskandar.
Pelantikan juga dirangkaikan dengan peluncuran SWI Green Impact, program yang menegaskan kepedulian SWI terhadap isu lingkungan melalui dua agenda utama, yakni Literasi Hukum Bijak Bermedia Sosial dan Ngobrol Pintar dan Inspiratif (Ngopi) Bareng Lingkungan Hidup bertema “Sampah Jadi Cuan”.
Melalui program tersebut, SWI ingin membuktikan bahwa organisasi pers tidak hanya menjalankan fungsi kontrol sosial dan penyebaran informasi, tetapi juga mampu menghadirkan gerakan nyata yang berdampak bagi masyarakat.
Iskandar mengajak seluruh pengurus dan anggota SWI di berbagai daerah menjadi pelopor ekonomi sirkular dengan mengubah persoalan sampah menjadi peluang ekonomi.
“SWI harus menjadi pelopor gerakan ekonomi sirkular dengan mengubah sampah menjadi cuan,” ujarnya.
Menurutnya, ekonomi sirkular bukan sekadar mengolah limbah menjadi produk bernilai, tetapi juga membangun kesadaran masyarakat untuk bertanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkan.
“Bukan hanya sampah yang kita olah, tetapi manusianya juga harus memiliki kesadaran dalam mengelola sampah. SWI harus menjadi pelopor di setiap daerah,” katanya.
Karena itu, ia meminta seluruh DPW dan DPD SWI mengimplementasikan gerakan tersebut secara nyata di wilayah masing-masing sebagai kontribusi terhadap pelestarian lingkungan sekaligus pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Sesi Ngopi Bareng Lingkungan Hidup menghadirkan sejumlah narasumber nasional, di antaranya Plt. Deputi II Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Prof. Popy Rufaidah, S.E., MBA., Ph.D., Direktur Pengurangan Sampah dan Pengembangan Ekonomi Sirkular KLH/BPLH Agus Rusli, S.Pi., M.Si., serta perwakilan Eksekutif Nasional WALHI. Diskusi membahas strategi penerapan ekonomi sirkular agar sampah memiliki nilai ekonomi dan tidak lagi dipandang sebagai beban lingkungan.
Sementara itu, dalam sesi Literasi Hukum Bijak Bermedia Sosial, Ketua Yayasan Bantuan Hukum Mata Pena Keadilan Omega, Dr. Tahun, S.H., S.K.N., M.H., M.Kes., mengingatkan pentingnya penggunaan media sosial secara bijak.
Ia menegaskan bahwa kebebasan berekspresi harus diimbangi dengan pemahaman terhadap ketentuan hukum agar masyarakat terhindar dari pelanggaran Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).
Pelantikan dihadiri Ketua DPW dan DPD SWI dari berbagai provinsi dan kabupaten/kota, antara lain Kalimantan Selatan, Jawa Barat, Jambi, Sumatera Utara, Kalimantan Tengah, Jawa Tengah, Kota Depok, Ciamis, Karawang, Pati, Sukabumi Raya, Tasikmalaya, dan Kabupaten Tangerang, beserta jajaran pengurus masing-masing.
Kegiatan ini juga dihadiri organisasi masyarakat, pelaku UMKM, aktivis lingkungan, akademisi, serta sejumlah mitra, di antaranya United Tractors, APMISO, Yayasan Nur Iskandar Abadi, Vita Catering, Plasticpay, Perempuan Berkebaya Indonesia (PBI), Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), dan berbagai elemen masyarakat lainnya.
Menutup sambutannya, Iskandar mengajak seluruh insan pers untuk bersama-sama mendukung gerakan SWI Green Impact agar menjadi gerakan nyata yang memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat.
“Saya mohon kepada seluruh wartawan, baik yang tergabung di SWI maupun organisasi lainnya, mari kita dukung gerakan SWI Green Impact ini. Mari kita buktikan bahwa gerakan SWI di seluruh Indonesia benar-benar nyata, tidak hanya omon-omon saja,” tutupnya. (el’s)



