Depok Bersatu! Sinergi Lintas Sektor Wujudkan Generasi Emas Bebas NAPZA pada HANI 2026

Depok | Sketsa Online – Komitmen membangun generasi muda yang sehat dan bebas dari penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif (NAPZA) ditunjukkan melalui kolaborasi lintas sektor dalam peringatan Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) 2026 di Kota Depok.

Pemerintah, aparat penegak hukum, akademisi, organisasi profesi, komunitas, media, dunia usaha, hingga masyarakat bersatu memperkuat edukasi dan pencegahan sebagai fondasi menuju Generasi Emas Indonesia.

Mengusung tema “Katakan Tahu pada NAPZA, Demi Mewujudkan Generasi Emas Indonesia”, yang berlangsung di Depok Open Space (DOS), Minggu (5/7/26), menjadi ruang kolaborasi untuk meningkatkan literasi masyarakat mengenai bahaya NAPZA, memperkuat kepedulian terhadap kesehatan mental, serta membangun budaya hidup sehat sebagai benteng perlindungan generasi muda.

Acara tersebut diinisiasi oleh Perkumpulan KULDESAK bersama Lingkar Napza dan KDS Pemuda KULDESAK, dengan dukungan Badan Narkotika Nasional Kota (BNNK) Depok, Satuan Reserse Narkoba Polres Metro Depok.

Turut hadir perwakilan Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata (Disporyata) Kota Depok, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Depok, Dinas Kesehatan Kota Depok, organisasi profesi, komunitas pemerhati kesehatan jiwa, serta berbagai organisasi masyarakat sipil.

Rangkaian kegiatan diawali dengan senam sehat bersama yang bertepatan dengan Car Free Day (CFD), dilanjutkan dengan talkshow interaktif, edukasi bahaya NAPZA, kampanye kesehatan mental, layanan konsultasi, pembagian media edukasi, hingga deklarasi bersama sebagai bentuk komitmen menciptakan Kota Depok yang sehat, tangguh, dan bebas dari penyalahgunaan narkoba.

Ketua Panitia HANI 2026 sekaligus Koordinator Lingkar Napza, Bastian Pasaribu, mengatakan penyalahgunaan NAPZA merupakan persoalan bersama yang hanya dapat dicegah melalui sinergi seluruh elemen masyarakat.

“Pencegahan penyalahgunaan NAPZA merupakan tanggung jawab bersama. Keluarga menjadi benteng pertama, kemudian diperkuat oleh sekolah, komunitas, media, dunia usaha, organisasi masyarakat, akademisi, hingga pemerintah. Ketika semua pihak bergerak bersama, kita membangun ketahanan sosial yang mampu melindungi generasi muda dari ancaman penyalahgunaan NAPZA,” ujar Bastian.

Menurutnya, upaya pencegahan harus lebih mengedepankan edukasi daripada semata-mata pendekatan represif. Masyarakat perlu memiliki pemahaman yang baik mengenai bahaya NAPZA sekaligus kepedulian terhadap kesehatan mental agar mampu mengenali risiko dan melakukan pencegahan sejak dini.

“HANI bukan hanya tentang memperingati satu hari dalam setahun. Yang lebih penting adalah bagaimana kita membangun kesadaran bersama, meningkatkan literasi masyarakat mengenai bahaya NAPZA, memperkuat kesehatan mental, serta mendorong kepedulian terhadap lingkungan sekitar agar mampu mencegah penyalahgunaan sejak dini,” katanya.

Antusiasme masyarakat terlihat sepanjang kegiatan. Pelajar, mahasiswa, orang tua, pegiat komunitas, hingga masyarakat umum aktif mengikuti diskusi mengenai pencegahan penyalahgunaan NAPZA, pentingnya rehabilitasi, kesehatan mental, penghapusan stigma terhadap penyintas adiksi, serta penguatan peran keluarga dalam membangun ketahanan generasi muda.

Forum tersebut juga menjadi ruang komunikasi antara masyarakat dengan para pemangku kepentingan. Peserta memperoleh informasi mengenai layanan rehabilitasi, konseling, mekanisme pelaporan, hingga berbagai program pencegahan yang dapat diakses masyarakat sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan sosial di lingkungan masing-masing.

Lebih lanjut, Bastian menegaskan, keberhasilan perang melawan narkoba juga ditentukan oleh kemampuan masyarakat menghadirkan lingkungan yang inklusif bagi penyintas adiksi agar mereka dapat menjalani proses pemulihan secara optimal.

“Perang terhadap narkoba harus dibarengi dengan upaya menghapus stigma dan diskriminasi terhadap penyintas adiksi. Mereka membutuhkan kesempatan untuk pulih melalui rehabilitasi, dukungan keluarga, kesehatan jiwa, dan pemberdayaan agar dapat kembali menjalankan fungsi sosialnya secara produktif. Ketika masyarakat mampu menerima dan mendukung proses pemulihan, kita sedang membangun lingkungan yang lebih sehat, aman, dan inklusif,” tuturnya.

Menutup kegiatan, Bastian mengajak seluruh elemen masyarakat menjadikan semangat HANI sebagai gerakan yang terus hidup, bukan sekadar diperingati setiap tahun, tetapi diwujudkan melalui aksi nyata di lingkungan keluarga, sekolah, tempat kerja, dan masyarakat.

“Ini adalah pengingat bahwa menjaga generasi muda dari ancaman NAPZA merupakan tanggung jawab kita bersama. Ketika pemerintah, aparat, dunia pendidikan, komunitas, media, dunia usaha, keluarga, dan masyarakat bersinergi, saya yakin kita mampu mewujudkan Generasi Emas Indonesia yang sehat, produktif, dan bebas dari penyalahgunaan NAPZA,” tutupnya. (el’s)

spot_img
spot_img

Terpopuler