Jakarta | Sketsa Online – Gaya hidup aktif semakin menjadi pilihan banyak anak muda, termasuk menjadikan renang sebagai olahraga favorit. Selain melatih hampir seluruh otot tubuh, renang juga bermanfaat bagi kesehatan jantung, meningkatkan daya tahan tubuh, serta melatih koordinasi dan konsentrasi.
Namun, menjadi perenang yang mahir tidak cukup hanya dengan sering berlatih. Dibutuhkan teknik yang tepat, mental yang kuat, serta disiplin dalam menjalani proses.
Hal itu dibuktikan oleh Derryl Nursavero Nandana, mahasiswa Program Studi Komunikasi Universitas Pertamina (UPER) angkatan 2025 yang sukses menorehkan prestasi di cabang olahraga finswimming.
Sebagai atlet termuda yang berlaga di PON 2024, Derryl kembali menunjukkan kemampuannya dengan meraih juara pertama kategori bi-fins nomor 100, 200, dan 400 meter pada Banten Finswimming Festival 2026. Ia juga berhasil meraih juara kedua kategori surface nomor 50 meter.
Di balik berbagai prestasi tersebut, Derryl menilai kemampuan berenang tidak hanya ditentukan oleh kekuatan fisik, tetapi juga oleh kemampuan mengendalikan pikiran dan menjaga konsistensi latihan.
Berdasarkan pengalamannya sebagai atlet, ia membagikan tiga hal penting yang dapat diterapkan siapa saja yang ingin meningkatkan kemampuan berenang.
Menurut Derryl, salah satu kunci utama adalah menjaga ketenangan agar tubuh dapat berada dalam posisi yang stabil di permukaan air. Banyak perenang pemula kehilangan efisiensi gerakan karena posisi tubuh tidak seimbang akibat otot inti (core) yang belum cukup kuat.
Untuk itu, ia rutin melatih kekuatan core melalui berbagai latihan seperti plank, flutter kicks, dan superman pose. Selain itu, ia juga membiasakan diri melakukan yoga dan meditasi agar pikiran tetap fokus saat berlatih.
“Kunci kecepatan itu ada pada ketenangan. Saya rutin meditasi dan melatih otot inti agar pikiran jernih dan tubuh tetap stabil. Saat tubuh lurus di permukaan, gerakannya jadi lebih efisien, tidak perlu mengeluarkan banyak tenaga, tapi tetap meluncur jauh,” ungkap Derryl.
Ia juga mengingatkan bahwa latihan yang dilakukan terus-menerus tanpa jeda dapat memunculkan kejenuhan. Sebagai olahraga yang mengandalkan pengulangan gerakan, renang membutuhkan kondisi mental yang baik agar motivasi tetap terjaga.
Ketika mulai merasa jenuh, Derryl memilih mengambil waktu sejenak untuk menjalani aktivitas sebagai mahasiswa, seperti bermain gim atau berkumpul bersama teman-teman, sebelum kembali ke kolam latihan.
“Kalau sudah jenuh, saya biasanya rehat dan menjalani kegiatan mahasiswa biasa, seperti main game atau kumpul bareng teman. Waktu santai ini justru bikin saya lebih tenang untuk mengevaluasi diri sebelum balik lagi ke latihan,” katanya.
Selain menjaga kondisi mental, Derryl menilai kemampuan mengatur waktu menjadi faktor penting bagi atlet yang juga menjalani pendidikan. Baginya, latihan akan berjalan maksimal ketika pikiran tidak lagi terbebani oleh pekerjaan lain. Oleh karena itu, ia selalu berusaha menyelesaikan tugas kuliah sebelum memasuki jadwal latihan.
“Sejak awal, saya disiplin membagi waktu. Saya biasanya mengerjakan tugas sebelum jadwal latihan dimulai. Jadi, waktu latihan saya bisa lebih fokus karena pikiran sudah tidak terbagi lagi dengan deadline kampus,” ujarnya.
Prestasi yang diraih Derryl mendapat apresiasi dari Pjs. Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. techn. Djoko Triyono, M.Si. Baginya, keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa mampu berkembang secara seimbang, baik di bidang akademik maupun nonakademik, ketika memiliki karakter disiplin dan kemampuan mengelola diri.
“Prestasi Derryl di ajang nasional membuktikan bahwa mahasiswa Universitas Pertamina mampu tampil unggul di berbagai medan. Kemampuannya mengelola stres dan mengatur waktu adalah bentuk karakter tangguh yang selalu kami dorong dalam proses pembelajaran serta kegiatan nonakademik melalui Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM),” jelasnya.
Menutup pernyataannya, Ia menegaskan, melalui pendekatan komunikasi yang suportif, Universitas Pertamina terus mendampingi mahasiswa agar keunggulan akademik dan prestasi nonakademik dapat berjalan harmonis dan saling melengkapi.
“Menjadi perenang berprestasi tidak hanya bergantung pada bakat atau intensitas latihan. Ketenangan dalam berpikir, kemampuan mengelola kejenuhan, serta disiplin mengatur waktu menjadi fondasi penting untuk meningkatkan performa sekaligus menjaga keseimbangan antara prestasi olahraga dan pendidikan,” tutupnya. (el’s)

