Jadi Inspirasi Para Istri! Warisan Ilmu Sang Ibu Jadi Bekal, Hampir 20 Tahun Jatuh Bangun Bunda Wulan Berbuah Kesuksesan

Depok | Sketsa Online – Tidak semua warisan berbentuk rumah, tanah, atau harta benda. Bagi Hj. Ulfa Wulandari yang akrab disapa Bunda Wulan, warisan paling berharga yang ditinggalkan sang ibu justru berupa ilmu berdagang, etos kerja, kejujuran, dan semangat pantang menyerah.

Bekal itulah yang kemudian menjadi fondasi lahirnya Bunda Wulan Fish, usaha pengolahan dan distribusi ikan laut yang kini telah bertahan hampir 20 tahun.

Perjalanan tersebut bukanlah kisah tentang kesuksesan yang datang dalam semalam. Di balik usaha yang kini dipercaya melayani berbagai pesantren, lembaga pendidikan, hingga pelanggan rumah tangga di Bogor dan Depok, tersimpan perjalanan panjang yang dipenuhi perjuangan, pengorbanan, dan keyakinan bahwa setiap kesulitan akan selalu membuka jalan rezeki bagi mereka yang tidak berhenti berusaha.

“Sejak kecil ibu saya memang sudah berjualan ikan di Jawa Tengah dan memasok sampai Semarang. Saya melihat sendiri bagaimana beliau bekerja dari pagi sampai malam. Dari beliau saya belajar bahwa usaha itu harus dijalankan dengan jujur, sabar, dan tidak mudah menyerah. Ilmu itulah yang kemudian saya bawa dan saya kembangkan di Bogor dan Depok,” ujar Hj. Wulan pada Selasa (7/7/26).

Menurutnya, pengalaman melihat sang ibu bekerja sejak kecil menjadi sekolah kehidupan yang tidak pernah ia dapatkan dari bangku pendidikan. Dari sana ia memahami bahwa keberhasilan usaha bukan sekadar soal keuntungan, tetapi tentang menjaga kepercayaan orang lain.

Berbekal pengalaman tersebut, Hj. Wulan memutuskan merintis usahanya sendiri. Langkah awal yang dijalani tidak mudah. Ia harus membangun pasar dari nol, memperkenalkan produknya kepada calon pelanggan satu per satu, bahkan mendatangi berbagai pesantren dengan membawa contoh ikan secara gratis agar kualitas produknya dapat dinilai langsung.

“Saya datang sendiri menawarkan produk. Tidak membawa nama siapa-siapa, hanya membawa keyakinan bahwa kalau kualitasnya bagus, orang pasti akan percaya,” katanya.

Cara sederhana itu ternyata menjadi titik awal tumbuhnya kepercayaan pelanggan. Banyak pesantren yang awalnya hanya mencoba, kemudian terus melakukan pemesanan secara rutin setelah merasakan kualitas produk dan pelayanan yang diberikan.

Kini, sekitar 70 persen pelanggan tetap Hj. Wulan Fish berasal dari berbagai pesantren di wilayah Bogor dan Depok. Dalam satu kali pengiriman, pesanan dapat mencapai sekitar 2.500 potong ikan dengan berbagai jenis. Khusus setiap hari Kamis, timnya bahkan mampu melayani pengiriman ke empat hingga lima pesantren secara bersamaan.

Untuk menjaga kualitas, seluruh ikan didatangkan langsung dari Muara Angke, Jakarta. Setelah itu, ikan dibawa ke gudang produksi di Bogor untuk melalui proses penyortiran, pembersihan, hingga pengemasan sebelum didistribusikan kepada pelanggan.

“Kualitas itu yang paling utama. Pelanggan bisa datang lagi bukan karena harga murah, tetapi karena mereka percaya kualitas produk yang kita kirim selalu terjaga,” ungkapnya.

Beragam jenis ikan tersedia di Bunda Wulan Fish, mulai dari ikan salem, tongkol utuh, tongkol iris, layang, kembung, bandeng, nila hingga lele. Selain memenuhi kebutuhan rumah tangga, usaha tersebut juga melayani pesanan dalam jumlah besar untuk acara hajatan, katering, sekolah, pondok pesantren, hingga berbagai lembaga lainnya.

Namun, mempertahankan usaha selama hampir dua dekade tentu bukan perkara mudah.

Hj. Wulan mengaku pernah mengalami masa-masa paling berat ketika pandemi Covid-19 melanda. Aktivitas masyarakat menurun, distribusi terganggu, sementara harga berbagai kebutuhan usaha terus mengalami kenaikan.

Belum lagi ketika harga ikan di pasar melonjak drastis. Dalam kondisi tersebut, ia dihadapkan pada pilihan yang sulit antara menaikkan harga kepada pelanggan atau mengurangi keuntungan agar hubungan baik tetap terjaga.

“Saat harga ikan naik, kami tidak bisa langsung menaikkan harga kepada pelanggan. Kami lebih memilih mencari solusi lain karena kepercayaan pelanggan jauh lebih mahal daripada keuntungan sesaat. Alhamdulillah sampai sekarang mereka tetap setia bersama kami,” ujarnya.

Baginya, membangun kepercayaan membutuhkan waktu bertahun-tahun, sedangkan merusaknya bisa terjadi hanya dalam satu kesalahan.

Selama menjalankan usaha, penolakan pun menjadi bagian yang tidak terpisahkan. Tidak sedikit calon pelanggan yang menolak ketika ia menawarkan produk. Namun pengalaman tersebut justru menjadi pelajaran berharga.

“Saya sering ditolak. Awalnya memang sedih, tetapi saya berpikir mungkin memang belum rezekinya. Saya terus mencoba ke tempat lain. Kalau satu pintu tertutup, yakinlah Allah akan membuka pintu yang lain,” tuturnya.

Ia menilai, kegagalan bukanlah alasan untuk berhenti, melainkan kesempatan untuk belajar menjadi lebih baik.

“Jatuh bangun dalam usaha itu biasa. Jangan pernah berhenti hanya karena sekali gagal. Bangkit lagi, evaluasi lagi, lalu coba lagi. Selama kita mau berusaha, selalu ada jalan.”

Di balik berkembangnya usaha tersebut, Hj. Wulan juga memiliki misi sosial yang terus dijaga. Ia ingin usahanya bukan hanya memberi manfaat bagi keluarganya sendiri, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi perempuan lain.

Saat ini, banyak ibu rumah tangga menjadi mitra dengan mengambil produk Bunda Wulan Fish untuk dijual kembali di warung maupun pasar. Selain itu, usaha tersebut juga menyerap tenaga kerja dari kalangan ibu rumah tangga untuk membantu proses produksi, pengemasan hingga distribusi.

“Saya ingin ibu-ibu tetap bisa produktif. Tidak harus bekerja di kantor. Dari rumah pun kita bisa menghasilkan uang dan membantu ekonomi keluarga. Kalau usaha kita berkembang, semoga semakin banyak orang yang ikut merasakan manfaatnya,” katanya.

Perempuan memiliki potensi besar untuk menjadi penggerak ekonomi keluarga apabila diberi kesempatan dan keberanian untuk memulai.

Ia juga menekankan bahwa memulai usaha tidak harus menunggu memiliki modal besar. Yang terpenting adalah kemauan belajar, keberanian mengambil langkah pertama, serta menjaga kejujuran dalam setiap proses usaha.

“Modal memang penting, tetapi yang lebih penting adalah keberanian memulai. Banyak orang punya modal tetapi tidak berani melangkah. Sebaliknya, ada yang modalnya kecil tetapi semangatnya besar sehingga usahanya terus berkembang.”

Menjelang akhir perbincangan, Hj. Wulan menyampaikan pesan khusus kepada para perempuan, terutama para istri dan ibu rumah tangga, agar tidak takut mencoba membangun usaha sesuai kemampuan masing-masing.

“Jangan pernah merasa kita hanya ibu rumah tangga. Justru dari rumah kita bisa menciptakan peluang usaha. Mau jualan makanan, ikan, kue, pakaian, atau berjualan secara online, semuanya punya peluang. Yang penting jangan malu memulai.”

Ia juga mengingatkan bahwa setiap proses pasti memiliki tantangan sehingga kegagalan tidak boleh dijadikan alasan untuk berhenti.

“Kalau sekali gagal, jangan putus asa. Anggap saja kita sedang tergelincir supaya langkah berikutnya menjadi lebih hati-hati dan lebih kuat. Terus berdoa, terus berikhtiar, terus menjaga kualitas, jujur kepada pelanggan, dan jangan mudah menyerah. Insya Allah, usaha yang dijalankan dengan sungguh-sungguh akan menjadi jalan rezeki, membawa keberkahan bagi keluarga, sekaligus memberi manfaat bagi banyak orang,” tutup Hj. Wulan. (el’s)

spot_img
spot_img

Terpopuler