Penulis : Risna Yanti, S.Pd (Guru MAN 2 Madina)Â
Langit siang itu tampak teduh, semilir angin menyambut kepulangan sosok yang akrab dengan dunia kesusastraan Indonesia. Mario Alisjahbana, kembali menapak langkah di tanah kelahiran ayahandanya. Putra dari tokoh sastra ternama itu, Sutan takdir Alisjahbana, pulang bukan sekadar membawa nama besar keluarga, namun ia datang membawa ingatan bahwa di kota kecil di ujung Sumatera Utara adalah tempat dilahirkannya seorang sastrawan besar Indonesia.
Natal, tanah kelahiran sang ayah. Pada 26 Juni 2026, ia menjejakkan kaki, di ranah nan indah itu, kehadirannya disambut hangat. Kepulangannya mengingatkan kembali kepada tokoh besar sastra Indonesia. Nama Sutan Takdir Alisjahbana (STA) bukan sekadar nama besar dalam sejarah sastra Indonesia. Ia adalah cahaya pemikiran, pembaharu bahasa dan tokoh yang ikut membagun kebudayaan bangsa. Namun hari itu, melalui kedatangan Mario, nama besar itu terasa lebih dekat, lebih hidup, dan lebih akrab.
Kehadiran Mario di kampung halaman ayahanda tercinta bukan sekadar kunjungan biasa, namun ia datang membawa misi. Dalam pertemuannya dengan masyarakat, ia menyampaikan harapan, meminta dukungan agar Sutan Takdir Alisjahbana ditetapkan sebagai pahlawan nasional.
Sebuah harapan yang lahir karena keyakinan bahwa perjuangan dan pemikiran Sutan Takdir Alisjahbana telah memberi pengaruh besar bagi perjalanan bangsa Indonesia, terutama dalam dunia bahasa dan sastra.
Bagi sebagian orang, Sutan Takdir Alisjahbana (STA) mungkin hanya dikenal sebagai tokoh sastra dan kebudayaan Indonesia. Namun bagi tanah kelahirannya, ia adalah jejak sejarah, kebanggaan sekaligus warisan pemikiran yang tak ternilai. Melalui kedatangan Mario, masyarakat diingatkan kembali bahwa dari tempat sederhana itulah lahir seorang sastrawan besar Indonesia.
Suasana menjadi semakin hangat ketika Mario berbicara tentang ayahandanya. Ada kekaguman, cinta, serta tanggung jawab yang tersirat dalam setiap kalimatnya. Dari caranya bertutur masyarakat seperti melihat bahwa darah sastra itu tidak pernah terputus. Ia tetap hidup, mengalir dalam sosok diri seorang Mario Alisjahbana.

Kurang lebih selama dua hari Mario berada di ranah itu. Membangun ruang dialog dengan masyarakat. Di balik kepulangannya, ada hal yang tidak bisa terlupakan begitu saja. Selama berada di kampung halaman ayahandanya, Mario didampingi sepenuhnya oleh Riswan Chadrin, S.E., Sekretaris YP2BM yang sengaja meluangkan waktunya dari tempat domisilinya di ibu kota Sumatera Utara, Medan.
Mario benar-benar sosok yang hangat dan ramah. Kehadirannya bertempat di hati seluruh masyarakat, pemuda, tokoh masyarakat, juga tokoh adat. Kepulangannya terasa seperti menyalakan pelita di ruang yang telah lama redup. Percakapan tentang sastra mulai tumbuh kembali. Di tanah kelahiran ayahandanya, ia membawa ingatan dan keyakinan bahwa di tempat itu sastra tidak boleh mati.
Sebelum kembali ke Jakarta, Mario menatap langit. Hamparan biru cerah membentang di atas tanah tempat sastrawan ternama Indonesia itu lahir. Sebuah kekaguman menjalar di hatinya. Natal, kampung halaman ayahandanya bukan sekadar daerah kecil tapi sebuah keindahan yang tak ternilai.



