Depok | Sketsa Online – Keterbatasan lahan pertanian bukan berarti Kota Depok kehilangan ruang untuk membangun ketahanan pangan. Di tengah padatnya kawasan permukiman, masyarakat Kampung Pancasila Depok Jaya, Kecamatan Pancoran Mas, justru mengembangkan berbagai kegiatan produktif dengan memanfaatkan lahan yang tersedia.
Mulai dari kebun cabai dan bawang, peternakan, hingga budidaya maggot dikembangkan di lingkungan warga. Inisiatif tersebut menunjukkan bahwa ketahanan pangan perkotaan dapat dibangun dengan pendekatan yang berbeda dari daerah yang memiliki lahan pertanian luas.
Ketua Fraksi Gerindra DPRD Kota Depok, H. Edi Masturo S.E., mengapresiasi inisiatif masyarakat Kampung Pancasila Depok Jaya yang mampu mengubah keterbatasan lahan menjadi peluang untuk menciptakan kegiatan produktif.
Menurutnya, kreativitas warga dalam memanfaatkan ruang yang tersedia menunjukkan adanya kesadaran dan semangat bersama untuk membangun ketahanan pangan mulai dari tingkat lingkungan.
“Ini saya kira sesuatu yang positif dan patut diapresiasi. Di tengah keterbatasan lahan, masyarakat tetap punya semangat untuk mengembangkan urban farming, peternakan, maupun budidaya maggot. Ini menunjukkan bahwa masyarakat bisa ikut berperan dalam memperkuat ketahanan pangan,” kata Edi, Rabu (26/8/2026).
Ia menilai karakter Kota Depok sebagai wilayah perkotaan membuat inovasi menjadi salah satu kekuatan dalam membangun ketahanan pangan.
“Kalau Kota Depok, mungkin dari sisi wilayah bukan pertanian. Tapi kita bisa melihat ketahanan pangan dari inovasi yang dibuat, misalnya kebun bawang dan kebun cabai di depan Pesona,” ujarnya.
Keberadaan kebun tersebut menjadi bukti bahwa produksi pangan tidak selalu membutuhkan lahan dalam skala besar. Di kawasan perkotaan, ruang terbatas yang dikelola secara optimal tetap dapat memberikan kontribusi terhadap kemandirian pangan sekaligus menjadi sarana pemberdayaan masyarakat.
“Itu bagian dari urban farming. Jadi, apa yang bisa dikembangkan di tengah kota juga menjadi bagian dari upaya ketahanan pangan,” ucapnya.
Depok Jaya dinilai memiliki potensi karena karakter kawasannya didominasi permukiman. Kondisi tersebut mendorong masyarakat untuk lebih kreatif dalam memanfaatkan ruang yang tersedia agar tetap produktif.
“Kenapa memilih lokasi itu? Karena Depok Jaya memang kawasan Perumnas dan didominasi perumahan. Jadi, banyak warga memanfaatkan lahan yang ada, meskipun terbatas, untuk urban farming, peternakan, maupun budidaya maggot,” jelasnya.
Ia melihat pendekatan tersebut menjadi pembeda antara pembangunan ketahanan pangan di wilayah perkotaan dan daerah yang memiliki basis pertanian. Jika kabupaten dapat mengandalkan hamparan lahan pertanian yang luas, kota harus mengoptimalkan sumber daya yang tersedia melalui inovasi dan partisipasi masyarakat.
“Biasanya, di kabupaten, ketahanan pangan lebih mudah didukung karena lahannya masih luas dan sektor pertaniannya kuat. Tapi kalau di Depok sebagai wilayah perkotaan, keunggulannya justru ada pada inovasi. Salah satunya melalui urban farming yang bisa dikembangkan di tengah keterbatasan lahan,” tuturnya.
Lebih dari sekadar menghasilkan bahan pangan, aktivitas tersebut juga memiliki dimensi pemberdayaan dan edukasi. Kebun pangan dapat menjadi ruang belajar bagi warga untuk memahami proses produksi bahan pangan, sementara budidaya maggot dapat dikembangkan bersamaan dengan upaya pengelolaan sampah organik.
Dengan demikian, ketahanan pangan di perkotaan tidak hanya diukur dari seberapa besar produksi yang dihasilkan. Kegiatan berbasis lingkungan juga dapat memperkuat gotong royong, meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan, sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
“Meski lahannya terbatas, tetap bisa dimanfaatkan untuk urban farming, peternakan, maupun budidaya maggot,” pungkasnya.
Konsep tersebut menjadi semakin relevan ketika ketahanan pangan ditempatkan sebagai salah satu agenda strategis nasional. Penguatan produksi dalam negeri dan kemandirian pangan membutuhkan kontribusi dari setiap daerah dengan model yang disesuaikan dengan karakter wilayah masing-masing.
Bagi Depok, keterbatasan lahan tidak semestinya menjadi hambatan. Justru kondisi tersebut dapat menjadi pemicu untuk melahirkan model ketahanan pangan perkotaan yang adaptif, dengan mengoptimalkan ruang yang tersedia dan menempatkan masyarakat sebagai bagian penting dari prosesnya.
“Kalau di Depok karena kota, keunggulannya justru ada pada inovasi-inovasi urban farming yang bisa dikembangkan di tengah keterbatasan lahan,” ungkapnya.
Namun, potensi tersebut membutuhkan kesinambungan agar tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat. Pendampingan, penguatan kelompok masyarakat, keberlanjutan produksi, penerapan teknologi, hingga akses terhadap pasar menjadi faktor penting agar inisiatif yang tumbuh dari lingkungan warga dapat berkembang secara berkelanjutan.
Karena itu, pengembangan Kampung Pancasila Depok Jaya membutuhkan kolaborasi yang lebih luas. Pemerintah, masyarakat, komunitas, dunia usaha, serta berbagai pemangku kepentingan dapat mengambil peran untuk memperkuat ekosistem yang telah terbentuk di tingkat lingkungan.
Menutup pernyataannya, Edi menegaskan bahwa pengembangan Kampung Pancasila Depok Jaya perlu dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan.
Jika dikelola dengan baik, inisiatif tersebut tidak hanya menjadi contoh pemanfaatan lahan terbatas, tetapi juga berpotensi berkembang sebagai model ketahanan pangan perkotaan yang memadukan inovasi, partisipasi masyarakat, pengelolaan lingkungan, dan penguatan ekonomi lokal.
“Mudah-mudahan inovasi ini terus dikembangkan dan mendapat dukungan dari berbagai pihak. Sehingga tidak hanya bermanfaat bagi masyarakat di lingkungan sekitar, tetapi juga bisa menjadi bagian dari upaya Kota Depok memperkuat ketahanan pangan,” tutupnya. (el’s)






