Bogor | Sketsa Online – Tidak semua ikatan mampu bertahan melawan waktu. Namun, persahabatan yang tumbuh di bangku sekolah sering kali menjadi pengecualian.
Meski telah puluhan tahun meninggalkan almamater dan menempuh perjalanan hidup di berbagai daerah dengan profesi yang berbeda, rasa memiliki terhadap sekolah tetap mampu mempertemukan mereka dalam suasana yang hangat.
Semangat itulah yang mewarnai Reuni Akbar APGAN Bogor 1975–1992 di Gedung Tegar Beriman, Kompleks Pemerintah Kabupaten Bogor, Minggu (12/7/2026). Sekitar 1.200 alumni dari 18 angkatan hadir, datang dari Jabodetabek, Bandung, hingga Bangka Belitung.
Bagi para peserta, pertemuan ini bukan sekadar melepas rindu, tetapi juga menjadi ruang untuk mempererat persaudaraan yang telah terjalin selama puluhan tahun.

Suasana penuh keakraban begitu terasa sejak awal acara. Sapaan hangat, pelukan, dan tawa lepas mengisi setiap sudut ruangan. Nama-nama yang dahulu akrab dipanggil di ruang kelas kembali terdengar, sementara kisah masa sekolah berganti dengan cerita tentang keluarga, perjalanan karier, hingga pengabdian yang kini dijalani.
Ketua Panitia Reuni Akbar APGAN Bogor 1975–1992, Ojat Sudrajat, mengatakan suksesnya penyelenggaraan acara merupakan hasil kerja sama seluruh panitia, alumni, serta para donatur yang mempersiapkan kegiatan tersebut selama hampir dua bulan.
“Alhamdulillah, Reuni Akbar APGAN Bogor 1975–1992 berjalan lancar dan sukses. Terima kasih kepada seluruh alumni yang hadir dari berbagai daerah, para donatur, serta semua pihak yang telah memberikan dukungan. Kekompakan panitia menjadi kunci sehingga kegiatan ini dapat terlaksana dengan baik,” ujar Ojat.
Menurutnya, tingginya antusiasme peserta menunjukkan bahwa ikatan emosional yang lahir dari lingkungan pendidikan tidak pernah benar-benar pudar. Justru seiring bertambahnya usia, nilai persaudaraan, kebersamaan, dan kepedulian menjadi semakin penting untuk terus dipelihara.
Reuni ini juga menggambarkan perjalanan panjang para alumni APGAN Bogor yang kini mengabdikan diri di berbagai bidang.
Dari almamater tersebut lahir guru, kepala sekolah, tenaga pendidik, aparatur sipil negara, anggota TNI AD dan TNI AL, lurah, kepala dinas, anggota DPRD, pelaku usaha, hingga berbagai profesi lain yang berkontribusi bagi pembangunan daerah maupun nasional.

“Keberagaman profesi ini menunjukkan bahwa pendidikan bukan sekadar proses transfer ilmu pengetahuan. Sekolah juga menjadi tempat pembentukan karakter, integritas, etos kerja, dan semangat pengabdian yang terus dibawa para alumninya dalam kehidupan bermasyarakat,” ungkap Ojat.
Lebih lanjut, Ia menilai, di tengah perubahan sosial yang semakin dinamis, organisasi alumni memiliki peran strategis sebagai modal sosial yang mampu memperkuat hubungan antarsesama sekaligus membuka ruang kolaborasi yang lebih luas.
“Jaringan alumni tidak hanya berfungsi menjaga silaturahmi, tetapi juga menjadi wadah berbagi pengalaman, memperluas kolaborasi lintas profesi, membuka peluang saling membantu, hingga melahirkan berbagai kegiatan yang memberikan manfaat bagi masyarakat,” tambahnya.
Kemeriahan acara semakin terasa saat grup lawak Empat Sekawan Ginanjar tampil menghibur. Gelak tawa yang memenuhi ruangan seakan menghapus sekat waktu dan membawa para alumni kembali pada masa-masa sekolah yang penuh kebersamaan.
Di balik hiburan tersebut, tersirat pesan bahwa persahabatan akan tetap terjaga selama dipelihara melalui komunikasi dan kepedulian.
Sementara itu, Anggota DPRD Kota Depok dari Fraksi PKB yang juga Koordinator Akomodasi Reuni Akbar APGAN Bogor 1975–1992, H. Ade Ibrahim, berharap semangat kebersamaan yang terbangun dalam reuni tidak berhenti saat rangkaian acara usai, melainkan terus terpelihara melalui silaturahmi dan komunikasi di kehidupan sehari-hari.
“Kami berharap reuni ini menjadi penguat ikatan kekeluargaan yang telah terjalin selama puluhan tahun. Dengan komunikasi yang tetap terbuka dan kepedulian antarsesama terus tumbuh, kebersamaan itu akan tetap hidup meski waktu terus berjalan,” ujar H. Ade Ibrahim.
Menutup pernyataannya, Ia menegaskan, Reuni Akbar APGAN Bogor 1975–1992 menjadi pengingat bahwa almamater bukan sekadar tempat menimba ilmu, melainkan ruang lahirnya persahabatan, pembentukan karakter, dan nilai-nilai kebersamaan yang tetap terjaga lintas generasi.
“Ketika silaturahmi terus dirawat, ikatan alumni tidak hanya menjadi kenangan masa lalu, tetapi tumbuh menjadi kekuatan kolektif yang mampu menghadirkan manfaat bagi generasi berikutnya dan masyarakat luas,” tutupnya. (el’s)



