Depok | Sketsa Online – Nama Sungai Ciliwung selama ini lebih sering dikaitkan dengan ancaman banjir yang melanda kawasan Bogor, Depok, hingga Jakarta saat musim hujan.
Namun, ketika kemarau tiba, sungai yang sama memperlihatkan wajah berbeda. Debit air yang menyusut menghadirkan bentang alam yang lebih terbuka, aliran yang relatif tenang, serta air yang tampak lebih jernih.
Perubahan itu menjadikan sebagian kawasan Ciliwung sebagai ruang rekreasi alami yang ramai dikunjungi warga.
Pemandangan tersebut terlihat di kawasan Kalimulya–Ratujaya, tepatnya di sekitar Jembatan Kuning, Gang Ceplik. Menyusutnya debit air membuat kedalaman sungai di titik tersebut hanya berkisar 30–50 sentimeter atau sekitar sepinggang orang dewasa.
Hamparan bebatuan yang biasanya tertutup air pun bermunculan dan dimanfaatkan warga untuk duduk bersantai, sementara anak-anak dan remaja menikmati kesegaran air di sepanjang aliran sungai.
Tanpa wahana permainan, tanpa tiket masuk, dan tanpa fasilitas mewah, kawasan ini justru menawarkan daya tarik yang lahir dari keaslian alam. Di tengah padatnya kawasan perkotaan, Ciliwung menghadirkan ruang terbuka yang memberi kesempatan masyarakat menikmati suasana sungai secara langsung.
Potret tersebut menunjukkan bahwa sungai tidak semata berfungsi sebagai pengendali banjir dan sumber daya air, tetapi juga memiliki potensi sebagai ruang publik yang bernilai edukatif, sosial, bahkan ekonomi apabila dikelola dengan baik.
Konsep wisata berbasis alam menjadi salah satu peluang yang dapat dikembangkan tanpa mengabaikan fungsi ekologis sungai.
Salah seorang remaja asal Kecamatan Cilodong, Ipul, mengaku cukup sering menghabiskan waktu bersama teman-temannya di kawasan Jembatan Kuning.
“Saya kalau ke sini sore hari, berenang di Sungai Ciliwung Jembatan Kuning bersama teman,” ujarnya, Sabtu (25/7/2026).
Menurut Ipul, kondisi sungai pada musim kemarau terasa lebih nyaman dibandingkan saat debit air sedang tinggi.
“Airnya sekarang jernih dan sejuk, jadi enak aja buat mandi sambil berenang,” katanya.
Meski menikmati suasana tersebut, Ipul mengaku tetap mengutamakan keselamatan.
“Kalau air lagi tinggi dan deras, saya enggak berani juga, apalagi kalau terlihat keruh, cukup bahaya,” ungkapnya.
Kewaspadaan itu menjadi penting mengingat Sungai Ciliwung berhulu di kawasan Puncak, Kabupaten Bogor. Curah hujan di wilayah hulu dapat menyebabkan kenaikan debit air secara tiba-tiba meski cuaca di Depok masih cerah. Selain itu, dasar sungai yang licin, bebatuan, serta lubuk dengan kedalaman yang tidak merata tetap berpotensi membahayakan pengunjung.
Di berbagai daerah di Indonesia, kawasan sungai yang tertata telah berkembang menjadi destinasi wisata berbasis alam sekaligus ruang interaksi masyarakat.
Hal itu menunjukkan bahwa Ciliwung juga memiliki peluang serupa, sepanjang pengembangannya dilakukan secara terencana dengan mengedepankan aspek keselamatan, konservasi lingkungan, dan pelibatan masyarakat.
Potensi tersebut akan sulit diwujudkan tanpa komitmen menjaga kualitas lingkungan. Sungai yang bersih merupakan syarat utama agar aktivitas rekreasi tidak berubah menjadi ancaman bagi ekosistem. Karena itu, kesadaran untuk tidak membuang sampah ke sungai, menjaga vegetasi bantaran, serta merawat kualitas air menjadi tanggung jawab bersama.
Bagi Ipul dan teman-temannya, Ciliwung menawarkan pengalaman rekreasi yang sederhana namun berkesan.
“Kalau di sini kan gratis, beda dengan kolam renang umum yang bayar. Di sini juga kita bisa sambil bersantai,” tutupnya.
Di balik citranya sebagai sungai yang kerap dikaitkan dengan banjir, Ciliwung ternyata menyimpan pesona yang belum banyak tergali. Musim kemarau memperlihatkan bahwa sungai ini bukan hanya aset ekologis, tetapi juga memiliki peluang menjadi ruang publik sekaligus destinasi wisata alam yang memberi manfaat bagi masyarakat.
Tantangannya kini bukan sekadar menikmati keindahannya, melainkan memastikan kelestariannya tetap terjaga. Sebab, hanya sungai yang bersih, aman, dan terawat yang dapat menjadi sumber kehidupan sekaligus kebanggaan bagi Kota Depok.(el’s)



