Depok | Sketsa Online – Di tengah kehidupan yang kian sibuk dan sering membuat manusia larut dalam berbagai urusan dunia, Hari Asyura 10 Muharram 1448 Hijriah hadir sebagai pengingat bahwa nilai terbesar dalam hidup bukanlah apa yang dimiliki, melainkan kebaikan yang ditinggalkan untuk sesama.
Momentum istimewa dalam kalender Islam ini menjadi kesempatan untuk memperkuat keimanan, memperbanyak amal kebajikan, serta menumbuhkan kepedulian sosial di tengah masyarakat. Dalam tradisi Islam, Hari Asyura dikenal sebagai salah satu hari yang memiliki banyak keutamaan.
Selain dianjurkan untuk memperbanyak ibadah dan menjalankan puasa sunnah, momentum ini juga menjadi waktu yang tepat untuk memperkuat rasa syukur, memperbanyak amal saleh, serta meningkatkan kepedulian terhadap sesama. Nilai-nilai tersebut dinilai semakin relevan di tengah kehidupan masyarakat yang menghadapi berbagai tantangan sosial dan ekonomi.
Pesan tersebut disampaikan Ketua BK DPRD Kota Depok sekaligus politikus Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Depok, Dr. Hj. Qonita Lutfiyah, S.E., M.M. Menurutnya, Hari Asyura bukan sekadar peringatan keagamaan yang datang setiap tahun, melainkan momentum untuk melakukan muhasabah diri sekaligus memperkuat komitmen dalam menebarkan manfaat bagi sesama.
“Hari Asyura mengajarkan kita tentang kesabaran, rasa syukur, keikhlasan, dan kepedulian terhadap sesama. Di tengah kehidupan yang penuh tantangan, jangan sampai kita kehilangan empati. Sebab salah satu ukuran kemuliaan seseorang bukan hanya dari apa yang dimilikinya, tetapi dari seberapa besar manfaat yang bisa ia berikan kepada orang lain,” ujar Hj. Qonita.
Sebagai seseorang yang menempuh pendidikan di lingkungan pesantren, Hj. Qonita mengaku banyak mendapatkan pelajaran tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara hubungan dengan Allah SWT dan hubungan dengan sesama manusia.
Baginya, pesantren tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga membentuk karakter untuk menjadi pribadi yang peduli, rendah hati, serta memiliki kepekaan sosial terhadap lingkungan sekitar.
“Di pesantren kami diajarkan bahwa ilmu harus melahirkan akhlak, dan ibadah harus melahirkan kepedulian. Jangan sampai seseorang merasa dekat dengan Allah SWT, tetapi justru jauh dari persoalan yang dihadapi masyarakat di sekitarnya,” tuturnya.
Hj. Qonita menilai semangat Hari Asyura sangat erat kaitannya dengan nilai kemanusiaan, solidaritas, dan gotong royong. Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk menjadikan momentum ini sebagai sarana memperbanyak amal kebaikan, menyantuni anak yatim, membantu kaum dhuafa, serta memberikan perhatian kepada mereka yang sedang menghadapi kesulitan hidup.
Di tengah berbagai dinamika sosial yang terjadi saat ini, kepedulian menjadi salah satu modal penting dalam menjaga kekuatan dan persatuan masyarakat. Ia meyakini bahwa masyarakat yang saling membantu akan lebih kuat dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
“Ketika masih ada anak yatim yang membutuhkan perhatian, tetangga yang kesulitan memenuhi kebutuhan hidup, atau saudara kita yang sedang menghadapi cobaan, maka di situlah kesempatan bagi kita untuk menghadirkan nilai-nilai Asyura dalam kehidupan nyata. Kepedulian tidak harus menunggu kita menjadi orang kaya. Kepedulian dimulai dari hati yang mau berbagi dan membantu sesama,” katanya.
Lebih lanjut, Hj. Qonita mengingatkan bahwa kehidupan dunia bersifat sementara. Oleh karena itu, setiap manusia hendaknya tidak hanya berlomba mengumpulkan harta dan mengejar jabatan, tetapi juga berlomba dalam menanam kebaikan yang manfaatnya dapat dirasakan oleh banyak orang.
“Harta bisa habis, jabatan bisa berakhir, tetapi kebaikan akan selalu dikenang. Bahkan ketika kita sudah tidak lagi berada di dunia ini, kebaikan yang pernah kita lakukan akan terus hidup melalui doa-doa dan manfaat yang dirasakan oleh orang lain,” ungkapnya.
Ia juga menegaskan bahwa bangsa yang kuat tidak hanya dibangun oleh kemajuan ekonomi dan pembangunan fisik semata. Lebih dari itu, bangsa yang maju membutuhkan masyarakat yang memiliki kepedulian sosial, semangat kebersamaan, dan kemauan untuk saling membantu dalam menghadapi berbagai persoalan.
Maka, momentum Hari Asyura 1448 H harus dimanfaatkan untuk mempererat persaudaraan, memperkuat nilai kebersamaan, serta membangun optimisme dan solidaritas di tengah masyarakat.
“Jangan hanya menghitung usia yang bertambah setiap tahun, tetapi hitung pula berapa banyak manfaat yang telah kita berikan kepada sesama. Sebab hidup terbaik bukanlah hidup yang dipenuhi kebanggaan atas apa yang kita miliki, melainkan hidup yang memberikan manfaat bagi sebanyak mungkin orang,” ujarnya.
Menutup pesannya, Hj. Qonita berharap Hari Asyura 1448 H menjadi momentum lahirnya pribadi-pribadi yang lebih peduli, lebih rendah hati, dan lebih semangat dalam menebarkan kebaikan.
“Semoga Allah SWT menerima amal ibadah kita, mengampuni dosa-dosa yang telah lalu, serta memberikan kekuatan kepada kita semua untuk terus istiqamah dalam kebaikan. Mari jadikan Hari Asyura sebagai pengingat bahwa sebaik-baik manusia adalah mereka yang paling bermanfaat bagi sesamanya,” tutupnya.
Bagi Hj. Qonita Luthfiyah, Hari Asyura bukan sekadar momentum tahunan dalam kalender Islam. Lebih dari itu, Asyura adalah pengingat bahwa kehidupan yang bermakna lahir dari kepedulian, keikhlasan, dan manfaat yang diberikan kepada orang lain. Sebab pada akhirnya, bukan harta atau jabatan yang akan dikenang, melainkan jejak-jejak kebaikan yang ditinggalkan selama hidup. (el’s)



